Jumat, 17-09-2021
  • Taqwa, Mandiri, Ceria, Inovatif, Berakhlak Mulia dan Peduli Lingkungan

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

Oleh: Adib Nur Aziz, Waka Kesiswaan dan guru IPA MTsN 4 Sleman

Sebentar lagi kita akan melewati momentum Hari Anak Internasional, yaitu tanggal 20 November 2019. Berbagai kegiatan telah diselenggarakan oleh sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia, dengan sebuah tajuk besar: sehari belajar di luar kelas. Kegiatan yang dilaksanakan serentak pada tanggal 7 November 2019 ini digerakkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Kegiatan yang digelar cukup variatif, mulai dari sarapan bersama, bersih lingkungan, peduli dengan energi, membaca buku/literasi, permainan tradisional, hingga deklarasi sekolah ramah anak. Semangat yang diusung tampak dari yel-yel dan tepuk sekolah ramah anak yang disosialisasikan kepada seluruh sekolah.

Ada empat hak anak yang mesti dihormati dan difasilitasi oleh setiap sekolah, yaitu: hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak partisipasi. Keempat hak ini lah yang menjadi komitman setiap sekolah yang telah mendeklarasikan sebagai sekolah ramah anak.

Sebagaimana disebutkan dalam surat edaran dari Kementerian PPPA, Konvensi Hak Anak dan Undang-undang tentang Perlindungan Anak mengamanatkan negara untuk dapat memenuhi, menjamin, dan melindungi hak anak. Di samping itu, setiap satuan pendidikan dituntut untuk mampu mengembangkan minat, bakat, kemampuan anak dan mempersiapkan anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan yang toleran, saling menghormati, bekerja sama untuk kemajuan dan semangat perdamaian. 

Tugas ini bukanlah tugas yang ringan. Para guru mesti mengevaluasi seluruh aktifitas mengajar dan mendidik yang selama ini telah dilaksanakan di sekolah. Karena boleh jadi, ada banyak hal yang selama ini telah dijalankan, tidak sejalan dengan semangat sekolah ramah anak. Mungkin ada hak-hak anak yang belum terfasilitasi dan terlayani oleh para guru. Atau mungkin saja,  ada hak-hak anak yang dilanggar oleh para guru.

Fakta di lapangan menunjukkan hal tersebut. Berbagai berita tentang tindakan kekerasan di sekolah/madrasah masih terus ada. Bahkan, ada yang berakhir dengan kesedihan, karena siswa mengalami trauma, cacat maupun meninggal dunia. Oleh karena itu, dalam yel-yel sekolah ramah anak, ditutup dengan dua kalimat yang sangat lugas: tanpa kekerasan dan tanpa bullying.

  Menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan sekolah ramah anak. Ini berarti, kita mesti menjadi guru yang ramah terhadap para siswa, dalam arti yang seluas-luasnya. Menghormati hak-hak mereka, dan memastikan semua siswa merasa nyaman dalam bimbingan dan didikan kita.

Keterangan: Dimuat di Surat Khabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada tanggal 16 November 2019.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Post Terkait

Quantum Ikhlash

Minggu, 31 Mei 2020

Madrasah yang Menyenangkan

Minggu, 31 Mei 2020

Gerakan Literasi di Madrasah

Minggu, 31 Mei 2020

Menggali Potensi untuk Beprestasi

Minggu, 31 Mei 2020

Peran Sekolah Adiwiyata

Minggu, 31 Mei 2020

Memelihara Shalat

Minggu, 31 Mei 2020

Ibadah di Masa Covid-19

Minggu, 31 Mei 2020