Senin, 27-09-2021
  • Taqwa, Mandiri, Ceria, Inovatif, Berakhlak Mulia dan Peduli Lingkungan

Memelihara Shalat

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

Oleh: Mashudi, S.Ag, guru PAI MTsN 4 Sleman

Siswa siswi yang saya sayangi!

Bukankah anak-anak sering mendengar bahwa pilarnya agama adalah shalat? Barang  siapa menegakkanya berarti menegakkan agama dan barang siapa meninggalkannya berarti merobohkannya. Kalau kita perhatikan dan pahami isi surat Adzzariyat ayat 56 dijelaskan bahwa tujuan diciptakannya kita sebagai manusia adalah untuk menyembah / mengabdi kepada Allah. Salah satu bentuk penyembahan yang sering kita lakukan adalah shalat, khususnya shalat 5 waktu.

Dan shalat merupakan bentuk ibadah yang penting dalam Islam, karena begitu pentingnya sehingga untuk menerima perintah shalat tersebut Allah memanggil Nabi Muhammad langsung ke hadapannya yang kita kenal dengan Isra dan Mi’raj.

Para siswa siswi yang berbahagia!

AD sebuah hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh Nabi SAW bersabda: Bagaimana pendapatmu jika sekiranya di depan pintu salah seorang di antaramu mengalir sebuah sungai lalu ia mandi padanya setiap hari sebanyak lima kali. Adakah masih melekat padanya kotoran? jawab para sahabat “sama sekali tidak ada sedikitpun kotoran padanya! selanjutnya Nabi bersabda “Begitulah perumpaan shalat yang lima kali itu. Dengannya Allah berkenan menghapus semua dosanya (HR Annasai, Attirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Hadits tersebut bermaksud menjelaskan pada kita betapa besar pahala shalat lima waktu bagi pelakunya jika ia ditunaikan menurut persyaratannya lahiriyah dan batinniyah. Bahwa shalat fardhu tersebut dapat menghapus semua dosa yang pernah dilakukan pelakunya pada masa sebelumnya. Tentu saja dosa  yang dimaksud dosa kecil yakni dosa yang tidak memerlukan taubat, juga bukan dosa yang ada hadnya, seperti menuduh wanita suci berbuat zina, mencuri dan sebagainya. Dengan shalat fardhu tersebut ibarat badan yang penuh kotoran, kalau setiap hari ia mandi dan membersihkannya, tentu kotorantersebut akan hilang. Maka menjadi jelas dan bahagia bagai orang yang rajin menunaikan shalat fardhu dengan baik, lebih-lebih bila dikerjakan dengan berjamaah.

Kemudian masalah khusuk menjadi suatu keharusan mengingat sholat itu adalah hubungan langsung antara seorang hamba dengan Allah lewat satu perangkat ibadah yang sudah teratur teknisnya. Maka untuk mencapainya ada larangan keras kedua bola mata berkeliaran kesana kemari termasuk memandang ke atas, riwayat muslim dari Jabir bin Samurah.

Dianjurkan agar kalau mau menguap dalam shalat ditahan sedapat-dapatnya, sebab ia adalah godaan setan, riwayat muslim dan Attirmidzi dari Abu Hurairah. Juga tak diperkenankan shalat dengan berkacak pinggang karena ia termasuk perbuatan orang Yahudi, kalau terasa pada dahi ada kotoran pasir misalnya jangan sekali-kali diusap karena perbuatan tersebut menganggu kekhusukan shalat termasuk pula terlarang ialah menoleh dalam shalat.

Bila berkeinginan untuk makan sedang hidangan telah tersedia maka dianjurkan untuk makan terlebih dahulu riwayat muslim dari Aisyah. Demikian pula bila ingin buang air besar atau kencing agar dikerjakan dahulu sebelum shalat.

Kesemuanya yang tersebut diatas dan masih ada beberapa yang lain adalah gangguan yang merusakkan ketenangan shalat sedang jika ketenangan tersebut tak tercapai tentu ma’na shalat itu sendiri akan tak berarti sama sekali. Dal hal rukuk kita harus melaksanakan dengan sebaik-baiknya, sedang teknis itu sendiri harus sesuai dengan yang dilakukan Rasulallah yang disabdakan yaitu meletakkan kedua tangan pada kedua lutut seraya memeganginya, riwayat Al Bukhori dari Abu Humaid Al Sa’di. Kemudian punggung diratakan dengan kepala. Sikap meratakan punggung tersebut dimaksudkan sebagai tidak mengangkat kepala dan tidak pula menundukkannya riwayat muslim dari Aisyah. Dengan demikian kedua mata pandangannya terarah pada tempat sujud demikian pula ketika melakukan sujud.

Dalam ruku dan sujud menurut riwayat Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi SAW pernah bersabda “jika seseorang diantaramu rukuk lalu mengucapkan doa Subhana Rabbial ‘Adhim 3 kali, maka sebenarnya ia telah sempurnalah rukuknya. Demikian itu jumlah bacaan yang paling sedikit. Dan kalau sujud lalu dia mengucapkan doa Subhana Rabbial ‘ala 3 kali, maka sempurna pulalah sujudnya. Dan itu jumlah bacaan paling sedikit.  (H.R Attirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Demikian gambaran sedikit bagaimana kita seharusnya memelihara shalat dengan demikian kita berharap semoga shalat / ibadah kita diterima oleh Allah SWT, kemudian diikuti pula diterimanya amalan-amalan yang lain dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang memelihara shalat yang akhirnya dimasukkan ke dalam Surga Firdaus (S. Al Mu’minin ayat 9,10,11) Aamiin

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Post Terkait

Quantum Ikhlash

Minggu, 31 Mei 2020

Madrasah yang Menyenangkan

Minggu, 31 Mei 2020

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Minggu, 31 Mei 2020

Gerakan Literasi di Madrasah

Minggu, 31 Mei 2020

Menggali Potensi untuk Beprestasi

Minggu, 31 Mei 2020

Peran Sekolah Adiwiyata

Minggu, 31 Mei 2020

Ibadah di Masa Covid-19

Minggu, 31 Mei 2020