Jumat, 24-09-2021
  • Taqwa, Mandiri, Ceria, Inovatif, Berakhlak Mulia dan Peduli Lingkungan

Madrasah yang Menyenangkan

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

Oleh: Rita Tiaswari, S.Pd, M.SI, guru BK MTsN 4 Sleman

Sebuah ilustrasi di pagi ini bisa menggambarkan bagaimana wujud madrasah yang menyenangkan itu. Beberapa guru berdiri di gerbang waktu pagi, dan menengok ke kanan dan ke kiri. Menunjuk ke arah kedatangan siswa, dari jauh mulai terlihat anak-anak berseragam datang dengan berjalan kaki menuju gerbang. Anak-anak yang berhenti beberapa meter dari gerbang ketika diantar orangtuanya. Sang guru pun menyambut kedatangan mereka dengan seulas senyum, jabat tangan dan pandangan manis ke arah mereka. Rona wajah yang mengarahkan untuk segera memasuki halaman madrasah.

Detik berlalu, menit berganti yang akhirmya menujukkan jarum jam 07.05 menit. Sambil melihat jam tangan sang guru pun tetap saja menoleh ke kanan dan ke kiri namun terlihat perubahan roman muka. Apakah itu? Sebuah senyum yang menghilang, tatkala kedatangan peserta didikpun disambut dengan tatapan mata tajam, dan suara yang ringan pun berubah menjadi intonasi yang keras?

”Jam berapa ini, kenapa terlambat?” … dan interogasipun berlangsung untuk sekian detik. Itulah yang sebagian sering terjadi dalam keseharian di madrasah, ilustrasi singkat pada suatu pagi.

            Jika madrasah itu menyenangkan mereka akan segera memasuki tempat yang menyeenangkan itu dengan penuh semangat dan bergairah. Memang hal ini bisa menjadi salah satu kriteria madrasah yang menyenangkan. Sebuah madrasah di mana peserta didik begitu semangat dan antusias memasuki gerbang sekolah, yang pada akhirmya berlanjut pada kesenangan mereka berada di kelas, mengikuti setiap proses kegiatan belajar mengajar dengan antusias dari jam pertama hingga jam terakhir. Kondisi ini sungguh ideal sekali pada tataran harapan dari semua guru dan stakholder madrasah. Namun pada kenyataan di lapangan bisa jadi tidak demikian halnya.

            Mendapati siswa menganggap madrasah itu adalah menyenangkan tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan titel profesionalitas seorang pengajar, pengalaman berpuluh tahun, penguasaan keilmuwan yang dimiliki sekalipun tidaklah bisa menjawab berhasilnya situasi seperti ini.

Sebagaimana sebuah ilustrasi dari salah satu pendidik, “Luar biasa anak-anak sekarang! Susahnya bukan main….! Hanya soal begitu saja tidak bisa menjawab!”. Itulah sebuah luapan ambang kesabaran seorang yang menjadi ‘agen of change’. Lalu, di manakah letak kesalahan? Situasi apakah ini sebenarnya? Apakah juga karena madrasah yang tidak menyenangkan? Ini adalah sebuah fenomena yang perlu diteliti, dikaji secara mendalam dari faktor sistem, guru dan juga siswa itu sendiri tentang proses pembelajaran yang menyeluruh.

            Madrasah yang tidak menyenangkan, yang tercermin pada ilustrasi di atas, penyebabnya adalah yang terpatri di benak peserta didik adalah semua yang negatif mengenai kata ‘belajar di sekolah’. Kalau siswa sudah tidak menyenangi atau mencintai proses belajar bagaimana materi pelajaran akan mudah diserap dan dipahami?

Sebenarnya yang dimaksud belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian dan ilmu, belajar yang dapat memenuhi enam aspek yaitu aspek mengingat, aspek memahami, aspek aplikasi, aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta.

Di madrasah kita mengenal kurikulum, sesuatu yang menjadi acuan guru mengenai materi yang diajarkan kepada siswa. Kurikulum inilah yang dipadankan dengan metode yang menarik sehingga menyenangkan. Menurut Walberg dan Greebberg lingkungan sosial atau suasana kelas/sekolah pada saat situasi proses pembelajaran berlangsung adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademik.

Dalam buku Quantum Teaching, Bobbi de Porter,Mark Reardon dan Sarah Singer Nourie, menyatakan ada beberapa yang perlu dibangun untuk menciptakan suasana yang menyenangkan yaitu sebagai berikut:

  1. Niat (Keyakinan)

Keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu  yang penting diperhatikan. Aspek keteladanan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran belajar yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan berpengaruh kuat pada proses belajarnya

  • Menjalin Rasa Simpati dan saling Pengertian

Hubungan yang terbina antara siswa dan guru adalah hubungan dari hati ke hati dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Berusaha memahami siswa yang lagi terkena masalah dengan orang tuanya. Memahami kemampuan dan perasaan siswa. Dengan keakraban dapat memudahkan guru untuk melibatkan siswa dalam setiap kegiatan belajar, memudahkan pengelolaan kelas, memperpanjang waktu  fokus dan meningkatkan kegembiraan di kedua belah pihak

  • Membangun Kegembiraan

Kegembiraan akan membuat siswa belajar dengan lebih mudah, mengusir rasa kebosanan, bahkan dapat mengubah sikap negatif siswa terhadap guru maupun mata pelajaran yang tidak disukainya. Kegembiraan bisa diawali dengan rasa percaya diri dan semangat guru dalam belajar.

  • Membangun Rasa Saling Memiliki

Siswa yang tegang, dipengaruhi oleh ancaman dan tekanan tidak dapat santai dalam menerima materi. Jika guru mampu membangun rasa memiliki dan tidak memenuhi proses belajar dengan ancaman, diharapkan siswa dapat merasa dekat dengan guru dan bisa rileks menerima materi.

  • Keteladanan

Memberi keteladanan adalah salah satu cara ampuh untuk membangun serta menambah kekuatan pada proses pembelajaran siswa.Dalam hal ini satu hal yang harus senantiasa diingat guru bahwa pakaian, penampilan, senyuman, dan sebagainya akan dinilai oleh siswa. Penampilan fisik adalah hal pertama yang dilihat oleh siswa, maka gurupun sebaiknya berpenampilan sopan, menggunakan baju yang serasi, dan tak kalah penting adalah senyuman keramahan. Hal ini secara tidak langsung akan memperngaruhi kegiatan belajar.

Demikianlah, membuat madrasah yang menyenangkan itu bisa diciptakan salah satunya dari faktor guru. Karena guru bisa memberikan manfaat yang positif bagi jiwa peserta didik. Jadilah sosok guru yang dirindukan sehingga peserta didik akan senantiasa merrindukan kita. Jika peserta didik sudah dibebani sistem pendidikan yang luar biasa ketat dan membosankan, bukankah kita bisa memberikan oase sentuhan yang menyenang kan bagi peserta didik. Semoga madrasah.

Keterangan: Dimuat di Majalah Bakti Kantor Wilayah Kemenag DIY pada edisi bulan September-Oktober 2018

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Post Terkait

Quantum Ikhlash

Minggu, 31 Mei 2020

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Minggu, 31 Mei 2020

Gerakan Literasi di Madrasah

Minggu, 31 Mei 2020

Menggali Potensi untuk Beprestasi

Minggu, 31 Mei 2020

Peran Sekolah Adiwiyata

Minggu, 31 Mei 2020

Memelihara Shalat

Minggu, 31 Mei 2020

Ibadah di Masa Covid-19

Minggu, 31 Mei 2020