Sabtu, 18-09-2021
  • Taqwa, Mandiri, Ceria, Inovatif, Berakhlak Mulia dan Peduli Lingkungan

Dinamika Keberagaman di Yogyakarta

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

Oleh: Ratna Kurniawati, S.Pd, M.SI, guru BK MTsN 4 Sleman

Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya dan pelajar yang santun dalam perilaku kehidupan bermasyarakatnya. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia dan daerah Istimewa, Yogyakarta memiliki heterogenitas tinggi karena banyak orang yang datang untuk menuntut ilmu dan berwisata.

Dinamika dari pendidikan di Yogyakarta juga melahirkan pemikiran-pemikiran yang beragam, dinamis dan kadang bergejolak. Banyaknya cendekiawan yang berlomba terlahir kadang tidak dibarengi dengan kematangan sosial sehingga terkadang pemikiran dan gagasan yang dilontarkan secara umum maupun implisit menimbulkan gejolak pada sementara masyarakat.

Melihat berbagai macam peristiwa atau kejadian akhir-akhir ini ditengah masyarakat Yogyakarta secara khusus dan Indonesia pada umumnya menjadi keprihatinan kita semua. Keributan kelompok mahasiswa dari daerah tertentu dengan kelompok lain atau masyarakat, pengrusakan atribut agama tertentu dan sikap-sikap kurang menghormati nilai-nilai budaya lokal membuat gejolak sosial di tengah masyarakat yang sangat cepat menerima pemberitaan dari media sosial.

Pemberitaan-pemberitaan yang selama ini terjadi terkadang kurang dapat dipertanggung jawabkan  sehingga terkadang menimbulkan salah persepsi dan masalah baru.

 Fenomena perbedaan ditengah masyarakat menjadi sebuah permasalahan merupakan hal yang lazim dalam kehidupan. Banyak orang secara umum menyukai persamaan dibandingkan perbedaan. Heterogenitas dan fanatisme berlebihan buah belajar instan media sosial dan lingkungan pergaulan membuat sementara otang tidak nyaman, sehingga melakukan hal-hal kurang baik dan memecah belah kehidupan sosial.

Kita yang hidup dalam naungan Bhineka Tunggal Ika seharusnya bisa belajar banyak dan memahami serta menikmati perbedaan yang ada sebagai suatu keindahan yang membuat hidup lebih berwarna dan dinamis.

Dinamika dan masalah intoleran di Yogyakarta merupakan persoalan yang kita anggap baru. Hal tersebut dapat kita lihat pada sejarah dan perjalanan kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kekuatan masyarakat Yogyakarta akan filosofi budaya, adat, nilai kesantunan dan toleransi sudah terjalin sejak lama, bahkan semenjak berabad yang lalu.

Jejak toleransi dan budaya yang tinggi dapat kita lihat pada peninggalan-peninggalan keagamaan maupun budaya di Yogyakarta dan sekitarnya yang selama ini masih terjaga. Cerminan masa lalu itu seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa dinamika harmonisasi di Yogyakarta bisa menjadi pemacu semangat untuk membangun Yogyakarta Istimewa yang santun dan bijak pada semua dinamika perkembangan sosial masyarakat.

Angka harapan hidup dan tinggi dan kota nyaman untuk ditinggali menurut survey bisa kita jadikan pijakan untuk membangun masyarakat Yogyakarta lebih baik lagi ditengah berbagai masalah dan kesenjangan ekonomi yang masih tinggi.

Kita semua sangat berharap sikap intoleransi yang pernah terjadi bisa dijadikan sebuah pelajaran dan pengingat untuk mendidik masyarakat dalam ber peri kehidupan sosial dan melek pada kesadaran baca tulis berita yang benar bisa dipertanggung jawabkan.

Pendidikan toleransi yang secara formal telah diberikan dilingkungan sekolah maupun madrasah, semestinya bisa dimaknai dan dipraktekan dalam kehidupan nyata keseharian tidak hanya teori dan jargon. Hal tersebut semestinya sejalan dengan dinamika masyarakat yang begitu mudah mendapatkan pendidikan informal baik dari lingkungan keluarga maupun media sosial untuk selalu mendengungkan toleransi, kekeluargaan, dan musyawarah dengan sikap keluarga yang terbuka, religius dan antisipatif.

Sikap-sikap nyata yang  bisa dilakukan masyarakat secara umum untuk mencegah intoleransi maupun radikalisme bisa dilakukan dengan kembali pada akar budaya kita yaitu gotong-royong dan musyawarah. Akar budaya tersebut akan membawa kita kembali pada masyarakat yang santun dalam kebersamaan dan sosial yang nyata.

Gerakan yang lain yang bisa kita lakukan adalah dengan budaya kontrol media sosial yang rentan intoleranisme dan radikalisme dengan bijak. Hal tersebut harus segera dilakukan agar kita tidak mudah terhasut berita kurang benar  karena sebagai media masal yang digunakan sebagian besar masyarakat masih minim kontrol dari penanggung jawab publik yaitu pemerintah.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Post Terkait

Quantum Ikhlash

Minggu, 31 Mei 2020

Madrasah yang Menyenangkan

Minggu, 31 Mei 2020

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Minggu, 31 Mei 2020

Gerakan Literasi di Madrasah

Minggu, 31 Mei 2020

Menggali Potensi untuk Beprestasi

Minggu, 31 Mei 2020

Peran Sekolah Adiwiyata

Minggu, 31 Mei 2020

Memelihara Shalat

Minggu, 31 Mei 2020

Ibadah di Masa Covid-19

Minggu, 31 Mei 2020